Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

SBY-Akbar: Kombinasi terbalik Pilpres 2004 & 2009

Konstelasi politik nasional sangat menarik belakangan ini. Golkar dipastikan menutup pintu untuk berkoalisi dengan Partai Demokrat setelah usulan Cawapres JK ditolak oleh partai demokrat(Detik.com). Akankah Pilpres 2009 “mengulang secara terbalik” fenomena Pilpres 2004?

Saya yakin Demokrat tidak menolak Golkar. Mereka hanya menolak aspirasi elit-elit Golkar pro-JK yang ngotot menyandingkan kembali JK dengan SBY. Tentu Demokrat tak akan mengabaikan Golkar. Suara yang besar (14 persen) dan mesin partai yang masih terjaga adalah modal sosial Golkar yang menggiurkan bagi SBY dan Demokrat. Bagaimana mendapatkan semua itu? Tak ada cara lain bagi SBY dan Demokrat kecuali merekrut kader Golkar yang punya akar kuat di Golkar. Siapa lagi kalau bukan Akbar Tanjung!

Jika langkah ini yang dilakukan SBY dan Demokrat, maka hal ini menjadi sangat menarik karena menunjukkan sebuah pengulangan sejarah yang terbalik.

Pada pemilu 2004, Golkar pun tak memilih bersanding dengan SBY dan Demokrat. Akbar yang sudah meminang PDIP ternyata kalah dari Wiranto dalam konvensi Partai Golkar. Padahal Wiranto sendiri sebetulnya tak punya akar yang kuat di Golkar. Kemenangan Wiranto dalam Konvensi Golkar diduga karena faktor “gizi”. Koalisi Mega-Akbar tak terjadi. Wiranto pun menjadi capres Golkar dengan menggandeng Salahudin Wahid (NU). Namun mesin politik Golkar yang kader-kadernya sangat loyal dengan Akbar tidak bekerja untuk Wiranto. Wiranto harus bekerja sendirian dan akhirnya kalah.

Lalu untuk siapa mesin politik Golkar bekerja pada Pilpres 2004? Tak lain dan tak bukan: untuk JK yang ketika itu punya akar yang sama kuat dengan Akbar di Golkar, terutama untuk kader-kader di wilayah Indonesia Timur. JK mundur di tengah Konvensi dan berbalik arah ke SBY. Dan ternyata SBY-JK menjadi pasangan capres terpilih pada pilpres 2004 berkat dukungan mesin politik Golkar. Situasi ini kemudian berpengaruh pada konfigurasi politik di internal Golkar. Golkar berpaling ke JK dan memilih JK sebagai ketua umum pada Munas Golkar Desember 2004. Setelah itu, Golkar pun, secara institusi, melebur dengan partai-partai pendukung SBY-JK sebagai partai pemerintah.

Kini, pada Pilpres 2009, Golkar tak memilih untuk koalisi dengan Demokrat. Ia akan memasang satu kakinya (JK) di satu sudut. Tapi Golkar pun tak bisa pula menahan hasrat untuk berkuasa dengan meletakkan kakinya yang lain (Akbar) di sisi Demokrat. Akbar akan disambut Demokrat karena partai SBY ini sangat membutuhkan mesin politik Golkar bekerja memenangkan SBY pada Pilpres 2009. Jika ini yang terjadi, hampir bisa dipastikan pasangan SBY-Akbar tak terbendung.

Saya ingin berandai-andai lagi: apabila SBY-Akbar terpilih dalam Pilpres 2009 dan Akbar menjadi wapres, maka pada Munas Golkar berikutnya akan memilih Akbar kembali sebagai Ketua Umum Golkar karena tak ada lagi figur lain yang kuat selain Akbar setelah kekalahan Golkar pada pileg 2009. Secara institusional Golkar pun akan merapat lagi ke SBY, melebur lagi dengan partai-partai koalisi SBY dan menjadi partai pendukung pemerintah.

Satu lagi yang sangat penting: konstelasi Pilpres 2014 tentu akan sangat ditentukan seberapa kuat Akbar dan Golkar menyusun kembali mesin politik Golkar yang agak porak-poranda pada Pileg 2009. Akbar yang dikenal sebagai administrator yang baik sudah berpengalaman dan terbukti mampu mengonsolidasikan partai Golkar dan memenangkan Pileg 2004 justru di tengah arus utama reformasi menghendaki pembubaran Partai Golkar. Golkar akan besar pada 2014 dan begitu pula Akbar.

Bagaimana dengan Partai Demokrat? Partai ini akan mengecil menyusul turunnya SBY dari gelanggang politik pada 2014. Satu-satunya ancaman bagi Akbar pada Pilpres 2014 hanyalah Prabowo yang saat ini sudah memiliki modal social yang cukup untuk membesarkan dirinya lima tahun lagi. Itu pun jika masih ada dukungan sumber daya dari Keluarga Cendana sampai lima tahun ke depan.

Ah, Golkar memang tak bisa lepas dari kekuasaan. What do you think?

Sumber foto: Detik.com

Baca selengkapnya......

Mengapa Suara PKS Stagnan?

Hasil Quick Count Pemilu 2009 menunjukkan suara PKS yang stagnan. Bahkan PKS keok di Jakarta. PKS yang pada 2004 menjadi jawara di Jakarta, pada pemilu ini hanya ada di posisi ketiga dengan suara 13,12 persen saja. PKS disalip Demokrat dengan 31,89 persen dan PDIP dengan 15,89 suara (http://pemilu.detiknews.com/read/2009/04/10/102741/1113556/700/pks-keok-di-jakarta). Mengapa?

Ada banyak faktor, baik faktor eksternal maupun faktor internal, yang membuat suara PKS begitu stagnan, jauh di luar target yang ditetapkan para elitenya. Tulisan pendek ini hanya akan membatasi diri pada faktor internal yang berkaitan dengan isu yang diangkat PKS dalam kampanye kali ini.

PKS melejit secara signifikan pada pemilu 2004 karena menekankan image bersih dan peduli yang kala itu merupakan barang mewah bagi Bangsa Indonesia. Rakyat yang benci dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme, menemukan kerinduannya pada PKS yang dalam sepak terjangnya mampu menunjukkan dirinya sebagai partai yang bersih dari isu korupsi. PKS juga mampu menunjukkan dirinya sebagai partai yang peduli terhadap sesama, terlihat dari tanggapan PKS terhadap bencana demi bencana yang menimpa negeri ini. Isu bersih dan peduli telah membuat PKS diterima semua kalangan. Karena isu bersih dan peduli kala itu, publik lebih melihat partai ini sebagai partai Islam yang terbuka. Pada Pemilu 2004, PKS memang tak menonjolkan isu-isu sensitif yang berkaitan dengan Islam karena disadari hanya akan membuat resistensi dari pemilih Indonesia yang plural.

Pada pemilu 2009 ini, PKS kelihatan terlalu percaya diri dengan perolehan suara pada pemilu 2004 dan kemenangan para kader atau kandidat yang didukung partai ini dalam Pilkada di berbagai daerah. Memang partai ini masih menonjolkan citranya sebagai partai bersih dan peduli, bahkan mencitrakan dirinya sebagai musuh para koruptor. Namun, sebelum dan selama kampanye Pemilu 2009, PKS lebih sering tampak dalam demo-demo mendukung Palestina, RUU Pornografi, dan bersikap sangat defensif terhadap isu poligami--satu hal yang semakin menegaskan PKS sebagai partai Islam yang cenderung eksklusif.

Dalam isu korupsi, PKS tak lagi berdiri sendiri. Kali ini PKS punya saingan berat: KPK. Gerak-gerik KPK dalam mengungkap korupsi telah membuat publik sangat bangga dengan lembaga ini. Klaim PKS sebagai partai musuh koruptor dengan sendirinya tenggelam di bawah wibawa KPK. Apalagi selama 5 tahun ini praktis tak ada sama sekali kasus korupsi dalam skala sangat besar yang diungkap kader PKS. Bahwa banyak kader PKS mengembalikan uang suap, YA. Tapi kenapa mereka berhenti sampai di situ? Kenapa para kader PKS tak mengungkapkan secara luas ke publik praktek-praktek suap dan korupsi yang umum terjadi di lembaga legislatif?

Publik tidak buta.

Baca selengkapnya......

RUU Rahasia Negara dalam Perspektif HAM

Sejumlah kalangan organisasi nonpemerintah (ornop) meminta Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menunda pembahasan RUU Rahasia Negara (RUU RN) setelah Pemilu 2009. Permintaan itu didasarkan pada sempitnya waktu menjelang Pemilu 2009 yang tidak memungkinkan terciptanya situasi yang kondusif untuk membahas RUU RN secara komprehensif (Koran Tempo, 3/2/2009).

Sejak awal RUU ini memang sangat kontroversial dan menuai banyak kritik dari publik. Sebagian kritik itu mencurigai RUU ini akan mengembalikan rejim ketertutupan seperti era Orde Baru. Tulisan ini hendak memperkuat argumen dari kritik terhadap RUU RN dengan menggunakan Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai alat analisis.

Pembatasan HAM
Dalam perspektif HAM, hak atas informasi bukan merupakan hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun (nonderogable rights). Oleh sebab itu, pelaksanaan hak ini dapat dibatasi sebagaimana dinyatakan dalam beberapa instrumen hukum HAM internasional maupun nasional, yaitu Pasal 29 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM), Pasal 19 Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik (Kovenan Sipol), Pasal 28J UUD 1945, dan Pasal 70 UU No. 39/1999 tentang HAM (UU HAM).

Namun pembatasan hak atas informasi tidak bisa diberlakukan secara sewenang-wenang. Di dalam UUD 1945 dan UU HAM ditegaskan pembatasan hanya dapat oleh dan berdasarkan UU “semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis”.

Menurut Siracusa Principles (prinsip-prinsip pembatasan hak dalam Kovenan Sipol), semua pembatasan harus ditafsirkan secara jelas dan dalam konteks hak-hak tertentu yang terkait. Pembatasan hak tidak boleh merusak dan membahayakan esensi dari hak itu tersendiri.

Dalam konteks inilah RUU RN harus diletakkan. RUU RN tak boleh membahayakan hak atas informasi. Merusak hak ini berarti telah menutup jalan bagi pemenuhan hak-hak fundamental dan kebebasan lainnya. Celakanya, ketentuan-ketentuan di dalam RUU RN ternyata banyak yang berseberangan dengan instrumen HAM dan prinsip-prinsip pembatasan hak yang diakui secara internasional. Hal itu paling sedikit tergambar dalam beberapa catatan berikut.

Pertama, Pasal 1 ayat 1 RUU RN mengartikan rahasia negara sebagai “informasi, benda, dan/atau aktivitas yang secara resmi ditetapkan dan perlu dirahasiakan untuk mendapat perlindungan melalui mekanisme kerahasiaan, yang apabila diketahui pihak yang tidak berhak dapat membahayakan kedaulatan, keutuhan, keselamatan NKRI dan/atau dapat mengakibatkan terganggunya fungsi penyelenggaraan negara, sumber daya nasional, dan/atau ketertiban umum, yang diatur dengan atau berdasarkan Undang-Undang ini”.

Pengertian rahasia negara di atas sangat kabur dan tidak terukur. Definisi semacam itu memungkinkan adanya penerjemahan yang liar tergantung kepentingan pemegang otoritas kebijakan. RUU RN, misalnya, tidak menjelaskan pengertian keselamatan negara. Menurut Prinsip-prinsip Johannesburg yang disusun oleh para ahli hukum internasional, kepentingan keamanan nasional harus dikaitkan dengan ancaman kekerasan bersenjata. Prinsip ini penting jika menengok pengalaman politik pada era Orde Baru di mana tujuan sesungguhnya dari pembatasan arus informasi ketika itu bukan untuk mengantisipasi ancaman kekerasan bersenjata, melainkan untuk menindas oposisi politik.

Kedua, ruang lingkup rahasia negara meliputi pertahanan dan keamanan negara, hubungan luar negeri, proses penegakan hukum, ketahanan ekonomi nasional, persandian negara, intelijen negara, dan pengamanan asset vital negara. Pada bagian Penjelasan diuraikan detil dari bidang-bidang itu, misalnya rahasia negara di bidang pengamanan aset vital negara “meliputi antara lain instalasi militer, daerah pelatihan militer, pabrik senjata, dan sebagainya“.

Cakupan rahasia negara sangat luas mencakup banyak bidang namun dirumuskan secara samar. Kata ”antara lain” serta ”dan sebagainya” menunjukkan pasal ini bisa diperluas sesuai kepentingan pemegang otoritas kebijakan. Hal ini bertentangan dengan prinsip maximum acces and limited exemption, di mana semua informasi yang dipegang pejabat publik pada dasarnya adalah terbuka, adapun pengecualian bersifat sangat terbatas semata-mata untuk melindungi kepentingan keamanan nasional dan kepentingan publik yang lebih besar.

Ketiga, RUU RN menyatakan instansi memiliki rahasia dengan tingkat kerahasiaan konfidensial. Disebutkan pula bahwa instansi memiliki wewenang untuk menolak permintaan warga negara atas informasi yang diklasifikasikan sebagai rahasia instansi. Ketentuan ini makin memperluas cakupan dan lembaga yang berwenang mengelola rahasia negara. Patut diduga hal ini akan menjustifikasi pejabat publik di semua instansi untuk mengklaim informasi publik sebagai rahasia instansi untuk melindungi kepentingan tertentu.

Keempat, RUU ini memberlakukan sanksi pidana kepada setiap warga negara yang dituduh menyebarkan informasi rahasia, termasuk memotret atau merekam aktivitas rahasia negara. Padahal beban kewajiban atas perlindungan rahasia negara semestinya berada di tangan aparat negara atau orang-orang yang, karena kedudukannya, memegang dan mengelola rahasia negara. Ketentuan ini bisa menabrak salah satu prinsip dalam Johannesburg Principles yang menegaskan bahwa tidak seorang pun dapat dihukum dengan alasan keamanan nasional karena pengungkapan suatu informasi jika kepentingan publik untuk mengetahui informasi tersebut lebih besar daripada bahaya yang ditimbulkan oleh pengungkapannya.

Demikianlah, catatan-catatan di atas menunjukkan bahwa RUU RN berpotensi membangun benteng berlapis yang menghalangi pemenuhan hak atas informasi. RUU ini bahkan bisa menegasikan kontrol atas penyelenggaraan pemerintahan, baik kontrol oleh media massa, DPR, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan lembaga lainnya. Pada titik ini, perbaikan tak cukup dengan mengubah pasal demi pasal. RUU ini memerlukan perombakan total dengan memberi ruang bagi paradigma baru yang mengacu pada instrumen-instrumen pokok HAM dan prinsip-prinsip pembatasan HAM yang diakui secara internasional.

Ditulis oleh Asep Mulyana pada 10 Februari 2009

Baca selengkapnya......

Besok, dua momen penting

Besok, Minggu, adalah hari yang sangat penting. Besok saya akan terbang ke Oslo untuk melanjutkan semester 2 perkuliahan saya. Saya akan mampir sebentar di Kuala Lumpur, kemudian singgah beberapa jam di Amsterdam, dan tak lama tibalah di Oslo, ibukota Norwegia. Di negeri dekat kutub itu saya akan belajar tentang demokrasi sosial ala Scandinavia yang jelas beda sekali dengan demokrasi ala Amerika.

Besok juga penting karena di alun-alun Langensari, Kota Banjar, digelar acara fashion show busana muslim tingkat SMA se-Kota Banjar dimana RADELA Moslem Outlet menjadi sponsor utama acara ini. Saya berharap acara ini bisa meleverage RADELA Moslem Outlet sebagai satu-satunya outlet busana muslim terbaik di Kota Banjar. Semua hal mengenai acara itu sudah disiapkan dan semoga bisa berjalan lancar meski saya tak bisa ada di sana.

Semoga semua baik-baik saja dan "dimudahkan". Amien.

Baca selengkapnya......

Demokrasi Kita: Pakaian yang Kedodoran

Dengan bergegas kawan saya, Jopi, pagi-pagi sekali datang ke kamar saya. “Kameraku hilang!” ujarnya panik. Saya pun ikut belingsatan. “Hilang di mana?” tanya saya. Ia menggelengkan kepala. Ia hanya teringat malam sebelumnya kamera itu dia bawa untuk berfoto-foto di pinggiran sungai besar dekat Mc Gill University kampus Mc Donald, Montreal, Kanada. Ia menduga kamera itu tertinggal di sebuah bangku tempat kami duduk-duduk malam itu.


Kami pun melaporkan hal itu kepada Ketua Panitia, Chris Bradley, ketika sarapan jam 8 pagi. Chris mencatat semua informasi yang dibutuhkan. “Saya akan kabari nanti,” ujarnya. Entah apa yang dilakukan Chris. Yang jelas sekira pukul 11 siang, seseorang datang—sepertinya dari kepolisian—sambil membawa kamera ke ruang kelas menanyakan siapa yang kehilangan kamera. Saya pun menyebut nama Jopi yang ada di kelas yang lain. Hanya dalam waktu tak kurang dari 3 jam kamera itu telah kembali ke tangan Jopi. Ya, secepat itu kamera yang hilang telah kembali, diantarkan langsung oleh polisi, tanpa prosedur yang rumit, tanpa imbalan pula!

Luar biasa! Tanpa sadar saya geleng-geleng kepala siang itu. Ya, itulah kejadian pertama yang mengesankan saya ketika mengunjungi Kanada, sebuah negeri di mana penjahat tak punya cukup tempat dan orang tak punya hasrat mencuri. Delapan bulan lalu, selama lebih dari tiga minggu (6—28 Juni 2008), saya bersama 125 orang dari semua benua berada di Montreal, Propinsi Quebec, Kanada, untuk mengikuti pendidikan hak asasi manusia internasional yang diadakan oleh Equitas.

Di negeri yang langitnya tampak lebih luas itu, saya merasa sangat aman, padahal saya amat jarang melihat polisi berkeliaran di jalanan. Seperti ada kesan haram bagi polisi, apalagi tentara, untuk hadir di jalanan atau tempat-tempat milik publik lainnya. Sebab, jika polisi, apalagi tentara, muncul di tempat-tempat umum itu sebuah pertanda tidak baik, yaitu bahwa situasi tempat itu berbahaya dan sedang berada dalam suatu ancaman. Orang-orang akan panik atau sekurang-kurangnya tak bisa tenang karena keberadaan mereka di jalanan. Coba bandingkan dengan polisi kita, bahkan tentara kita, di KRL Jabotabek atau di Stasiun Manggarai yang dengan entengnya menenteng-nenteng senjata api sambil mengawasi para penumpang gelap seolah para penyusup tak berkarcis itu sama mengerikannya dengan teroris internasional.

Di kampus John Abbot College, tempat saya belajar, saya pun tak menjumpai satuan keamanan kampus di depan front office ataupun di gerbang kampus. Mereka “ngumpet” di kantornya yang berada di salah satu gedung di kampus itu. Saya hanya melihat satuan keamanan kampus sekitar lima kali dalam waktu 3 minggu, empat kali ketika mereka patroli pada malam hari dan satu kali ketika mereka menunggui pesta yang kami adakan di halaman asrama. Di negeri Barat yang bebas itu, sebuah pesta bahkan harus mendapat ijin, mungkin semacam ijin gangguan atas privasi orang lain. Dan ijin itu mahal sekali: 100 dollar Kanada (sekitar 1,2 juta rupiah). Pesta pun tak bisa sembarang waktu. Ijin hanya dikeluarkan dari pukul 21.00 sampai pukul 00.00. Kalau pesta melewati waktu yang ditentukan, kami harus membayar denda yang sangat besar.

Hal lain yang membuat saya geleng-geleng kepala adalah penghargaan mereka terhadap pejalan kaki. Saya masih ingat betul ketika akan menyeberang jalan. Lazimnya di Indonesia, pejalan kaki harus sabar. Kita harus menunggu mobil lewat dulu baru kita bisa menyeberang. Di sana sebaliknya. Justru mobillah yang mesti menunggu pejalan kaki lewat lebih dulu. Berkali-kali saya gagap: sering berhenti ketika akan menyeberang. Jadilah saya dan pengendara mobil sama-sama berhenti. Sering saya melambaikan tangan ketika menyeberang, bukan untuk meminta mereka berhenti, tapi sebagai tanda terima kasih karena mereka sudah berhenti, sesuatu yang mungkin aneh bagi mereka. Selain berhenti ketika ada pejalan kaki, pengendara mobil di sana pasti akan menginjak remnya dan berhenti sesaat setiap kali melewati perempatan jalan. Ada atau tidak ada polisi.

Saya, lagi-lagi, dibuat geleng-geleng kepala sewaktu mau naik bis. Saya dan Anda di Indonesia mungkin terbiasa berkerumun ketika menunggu bis untuk kemudian berhamburan cepet-cepetan naik bis. Siapa cepat, siapa kuat, dia masuk lebih dulu dan, kalau beruntung, dapat tempat duduk lebih dulu. Di Kanada tidak. Semua orang berdiri di halte dan membentuk barisan yang tak kaku. Kalau Anda datang lebih dahulu ke sebuah halte, maka Anda akan punya akses lebih dekat ke pintu masuk. Ketika bis datang pun, semua orang yang sudah berdiri berbaris itu masuk dengan tertib dan tenang. Kita tak bakal kuatir bis meninggalkan kita, seperti kalau Anda naik bis Mayasari 06 Grogol—Rambutan atau metromini Manggarai—Pulo Gadung.

Sebetulnya ada banyak hal “remeh” lainnya yang membuat saya tak henti-hentinya menggelengkan kepala, termasuk soal voluntarisme, masyarakat yang asosiasional, kemandirian dan kesetaraan individu, dan penghargaan yang tinggi atas tenaga manusia. Cerita-cerita kecil saya di atas barangkali bukan hal aneh bagi Anda yang pernah melancong atau tinggal di Kanada atau negeri-negeri Dunia Pertama lainnya. Potongan-potongan cerita itu lalu menyadarkan saya bahwa peradaban yang maju tak sekedar soal prosedur dan kelembagaan formal. Demokrasi tak cukup dibangun dengan pemilu, pembentukan lembaga perwakilan, prosedur dan mekanisme formal, ataupun aturan hukum positif.

Sesuatu yang lebih penting dari itu semua adalah struktur budaya yang mendukung tegaknya peradaban dan demokrasi. Struktur budaya adalah suprastruktur. Ia ibarat roh bagi peradaban, dan roh itulah yang hadir dalam cerita-cerita keseharian saya di Kanada. Struktur budaya melahirkan nilai-nilai, nilai-nilai membentuk kebiasaan-kebiasaan, dan kebiasaan-kebiasaan membangun prosedur, mekanisme, dan aturan formal. Jadi struktur budaya itulah yang pada akhirnya membentuk prosedur, mekanisme, dan pelembagaan formal. Suprastruktur yang demokratis akan melahirkan kelembagaan formal yang demokratis, BUKAN SEBALIKNYA. Di Kanada dan negara-negara Dunia Pertama, demokrasi sebagai sistem sosial—dan kemudian sebagai sistem politik—betul-betul tumbuh dari “dalam”, lahir dari struktur budaya yang hidup di tengah masyarakatnya, bukan sistem yang didikte oleh para elitenya.

Kita? Sebaliknya. Struktur budaya kita belum mendukung tegaknya peradaban semacam itu. Kita hendak maju dan beradab. Kita mau demokrasi. Tapi yang dibangun terlebih dahulu bukan struktur budayanya, bukan rohnya, melainkan raganya dulu: prosedurnya, mekanismenya, dan aturan mainnya. Sementara struktur budayanya, rohnya, tak disentuh sama sekali, dibiarkan tetap saja seperti dulu: feodal dan patrimonial. Kita memulai bukan dari hulu, tetapi dari hilir.

Demokrasi kita dicangkokkan “secara paksa” oleh para elite dan intelektual kita di dalam suprastruktur masyarakat kita yang feodalistik dan patrimonialistik. Maka jangan marah-marah kalau demokrasi kita ini penuh dengan paradoks dan dilema. Jangan pula terkaget-kaget kalau pemilu kita yang menghabiskan triliyunan rupiah itu tak akan mampu melahirkan kesetaraan politik dan keadilan ekonomi, tak bakal sukses membangun peradaban yang memajukan martabat manusia dan kemanusiaan. Kita harus “lapang dada” kalau proses yang kita lalui sebagai sebuah bangsa itu hanya akan mencetak feodalisme dan patrimonialisme model baru dengan pakaian kedodoran yang bernama demokrasi.

Baca selengkapnya......

Niagara yang Memesona

Delapan bulan lalu, Juni 2008, saya melakukan perjalanan yang luar biasa ke negeri bajing: Kanada. Tujuan utama perjalanan ini adalah untuk mengikuti pendidikan hak asasi manusia internasional. Di sela-sela acara, saya sempat mencuri waktu untuk melancong ke air terjun Niagara yang melegenda itu. Inilah gambar-gambar yang menakjubkan dari salah satu keajaiban dunia itu.



Antri bis sebelum melancong ke air terjun Niagara



Perjalanan ke Niagara bersama 7 kawan dari Asia Tenggara




Saya naik ke sebuah menara untuk melihat dua air terjun Niagara dari atas.






Sebelum naik boat kami dibekali jas hujan warna biru untuk menghindari "hujan lebat" dari air terjun. Jas hujan itu masih saya simpan sampai sekarang di bagasi motor saya, hehehe...



Perahu boat yang kami tumpangi mendekati Niagara. Begitu dekat hingga para penumpang pun tak bisa menyimpan teriak histerisnya.



Nampang di depan Niagara bersama Ana, Rani, dan Soraiya, dengan Jopi sebagai juru foto.

Baca selengkapnya......

Pecah Telor !

Senja itu saya masih mengetik di kamar kos di bilangan Karangmalang. Bukan tugas kuliah, bukan pula soal rancangan program promo untuk dua toko saya di Ciamis dan Banjar. Saya sedang menulis sebuah artikel opini untuk dikirimkan ke sebuah media cetak. Tiba-tiba dering telepon mengagetkan saya. "Yah, hari ini udah pecah telor!" teriak istri saya di ujung telepon.

Hah? Pecah telor? Wah itulah kabar yang saya tunggu-tunggu sebulan ini. Ya, omset penjualan toko kedua kami hari Selasa kemarin, 3 Februari 2009, sudah mampu menembus target yang saya tetapkan: 500 ribu perhari. "Alhamdulillah, Gusti Allah ora sare," gumam saya dalam hati.

Saya tidak bisa menggambarkan perasaan saya saat itu. Beberapa hari lalu saya sedih ketika omset 0 rupiah. Sedih bukan terutama karena omsetnya itu, tapi karena istri saya kehilangan semangat setelah itu. Sekarang, saya memang senang dengan omset hari itu yang melampaui target. Tapi saya lebih senang lagi karena suara di seberang telepon yang terdengar renyah. Saya merasakan geliat semangatnya kembali.

Selamat istriku.

Teruslah bermimpi, maka Tuhan akan memeluk mimpimu!

Baca selengkapnya......

Asyiknya Punya Komunitas

Beberapa hari yang lalu, posting saya di blog ini tentang Omset 0 rupiah saya sharing ke milis Komunitas Tangan Di Atas (TDA). Ternyata sharing saya mendapat banyak tanggapan. Semua balasan dari kawan-kawan di komunitas ini sungguh membuat saya haru. Mereka sangat peduli dan memberikan suntikan energi positif yang luar biasa buat saya. Inilah asyiknya punya komunitas. Terima kasih banyak kawan-kawan.

Berikut tanggapan dari kawan-kawan TDA:

Rosihan menulis:
Sebuah sharing yang sangat bagus, paragraf-paragraf ikhlas adalah yang paling
indah. Omset Rp.0 - kalau itu pengalaman pertama - serasa menyesakkan dada. Namun,
tidak ada salahnya jika kita perlu melewatinya sebagai hal yang biasa.

Jika itu menjadi hal biasa, kita akan ringan melewatinya. Kita akan ringan
memikirkan solusinya, dan kita akan ringan melangkah mengatasinya.

salam sukses
rosihan
www.saqina.com

riad gozan menulis:
Bisnis nya apa pak???
Ada kasus 2 temen saya di bandung. bisnis komputer.
Dimodalin pengusaha besar.

3 bulan pertama Luar biasa.
17 Bulan berikutnya Bankrut Total.

Satu orang lari ke Singapore jadi TDB.
Satu orang banting setir usaha marine survey.
Sekarang omsetnya milliaran.
Yang di singapore nyesel jadi TDB.
Pelajaran apa yang kita dapat??

Mohon pencerahan.

imam wijayanto menulis:
Wah Pak Asep..mudah2an dikuatkan mentalnya. Usaha memang begitu pak, perlu
strategi khusus untuk mendatangkan konsumen. Yang penting adalah tetap
semangat..saya juga ketika memulai usaha ga langsung rame pak, tapi karena
semangat terus berkobar kobar jadi selalu saja ada ide utk mendatangkan
konsumen. Cari dulu motivasi menjalankan usaha pak...lebih baik motivasinya
bukan uang pak sehingga ketika uang blom dapet kita tetep semangat apalagi kalo
berangkat dari hobi atau kesulitan yg kita alami sendiri. Mudah-mudahan berguna
buat bapak..

Rgds,
Imam W
0811894791

Danar menulis:
"Semangat berkobar-kobar" kata kunci yang menurut sy paling pas (makanya usahaku
aku kasih nama KOBAR)

Salam kenal semuanya, nama saya danar ingin bersilahturohmi dan bergabung dengan
komunitas ini

Buat Pak Asep; saya yakin waktunya akan segera datang

Untuk Pak Moderator; mau nanya apakah TDA punya anggota di luar negeri khususnya
timur-tengah

Terima kasih dan salam semuanya
danar
0813 2800 5556

Tutut Vaty Husnawati menulis:
Hahaha... seru ya, kalau sudah ngomongin omset 0 rupiah. Santai aja
pak Asep. Toko saya yang di ITC Kuningan, yang bukanya juga bulan
desember, juga masih idem kok, sering omset 0 rupiah. Malah gak hanya
sehari doank kayak toko bapak. Total sampai hari ini ada sekitar 10
hari lebih yang omsetnya 0 rupiah.
Yang di ITC Depok sampai sekarang juga ngalamin kok, omset 0 rupiah.
Tapi lebih dikit. Setelah lebaran sampai hari ini mungkin gak sampai 5
hari.

Tapi... jangan salah pak. Dan gak usah pesimis juga. Soale pas omset 0
itu, ada aja yang datang dan tanya2. Ya dijawab aja dengan baik.
Dibuat tertarik. Siapa tahu dia gak jadi beli karena gak bawa uang,
atau karena gak ngajak anaknya (karena saya jual baju anak), atau
karena lagi buru-buru, atau karena belum ada kebutuhan untuk beli
barang itu. Nah, suatu saat pas dia mo beli, diharapkan dia ingat toko
kita, sehingga nyari toko kita dan belinya di toko kita.

Dan ini memang terbukti di ITC Kuningan. Kalo di ITC Depok gak usah
dibilang lah, khan udah 3 tahun. Nah, yg di ITC Kuningan ini, setelah
bbrp hari, ada ibu2 yang dateng sama anaknya. Trus beli. Katanya waktu
itu memang udah liat2 dan tertarik, tapi pengennya anaknya sendiri
yang memilih. Nah, yang model kayak gini yang bisa diharapkan jadi
pembeli loyal pak.

Ada satu tips lagi supaya gak pesimis. Coba dicatat detail profit dan
biaya-nya pak. Profit ya, jangan omset. Nah, dari catatan bapak itu,
bisa dilihat, sebenarnya sudah untung atau masih berapa lagi sampai
menjadi BEP. Biasanya sih, meskipun sering omset 0, tapi pas dihitung
total profit, ternyata tetep nutup biayanya kok.

Untuk ke Rabbaninya, diterangin aja kalo sedang sepi, minta kemudahan.
Biasanya dikasih kok. Apalagi sepertinya krisis memang mulai terasa
ya. Di Anugrah ITC Depok, biasanya penjualan normal lagi sekitar 2
bulan setelah lebaran. Ini sampai 4 bulan, penjualan baru naik dikit
doank, masih belum normal. Trus juga pas nanya ke temen2 TDB, ternyata
rata2 memang lagi gak ada dana. Macem2 penyebabnya. Bisa kredit yang
naik, renov rumah yang juga jadi naik biayanya, ada yg sakit yg juga
rupiahnya naik, dst. Jadi imbasnya ya dana untuk beli baju turun
drastis. Tapi santai aja. Yang bertahan yang akan memenangkan
persaingan. Minimal, untuk momen lebaran, sepertinya masyarakat
Indonesia tetep gak terpengaruh krisis. Jadi, sekarang meskipun sepi,
tetep aja dibuat supaya yang dateng itu jadi percaya sama toko kita.
Bahwa toko kita paling banyak pilihannya. Paling make sense harganya.
Paling...

Begitu.......
Dari yang sering omset 0 rupiah :-)

=Tutut =
http://anugerahfashion.blogspot.com/
Anugrah Collection
ITC Depok Lt UG A28
77 203 707 / 0812 107 8685

Hadi Kuntoro menulis:
Beginilah indahnya jadi pebisnis Pak Asep...kayak naik jetcoaster kan..?
Kadang di puncak....happy sekali...dan sekali waktu perut rasanya mual, bahkan
saya pernah mengalami hal yang bener2 membikin mual, makanya saya tulis di blog:

Bisnis Membuatku
Mual..(http://hadikuntoro.blogspot.com/2007/05/today-is-sharing-day.html)

Dan yang harus diinget pak, perjalanan bisnis anda bukan cuma 1-2 bulan kan..?
masih 10,20 bahkan bisa ratusan tahun ke depan diterusin anak cucu anda, Insya
Allah..dan apa yang terjadi saat ini hanyalah kenangan indah semata pada suatu
saat nanti...wallahu a'lam..

"The winner itu bukanlah orang yang tidak pernah kalah/gagal, tapi orang yang
tidak pernah menyerah..."

Dan nanti ketika anda di Norwegia sanapun akan lebih mengasyikkan lagi, karena
pasti selalu penasaran kepngin membuka email untuk tahuomset hari ini berapa
hehe...?

Kalau sedang turun begini, saya biasanya main/silaturahim ke orang lain pak..dan
disana bisa jadi banyak ribuan jawaban yang sangat bagus buat anda...

Salam Dahsyat..!

Hadi Kuntoro
http://rajaselimut.com
http://hadikuntoro.blogspot.com

Lelli menulis:
Tetap sabar dan tawakal ya, pak. Sekedar sharing, saya sendiri juga saat
ini masih beromset Rp. 0,- dan usaha saya sungguh2 murni saya kerjakan
sendiri, suami saya hingga saat ini masih belum mendukung. Tapi saya punya
keyakinan kuat bahwa apapun yang kita lakukan dan niatkan untuk memberi
kebaikan kepada diri sendiri dan orang banyak (terutama),Insyaallah pasti
akan mendapat balasan yang terbaik dari Allah.
Terima kasih , karena Saya juga mendapat pelajaran keikhlasan dari sharing
Bapak.

Lelli
www.rizqiarka.multiply.com

Doris Nasution menulis:
Ikutan sharing ahhhh, jadi ingat buka toko Shaakira -May 2007 yang lalu nih ;-)

Buka usaha pertama kali, pastinya dengan skenario dan harapan yang sangat-sangat
optimistik hehe, maklum salah dua kompornya saat itu ya pak Hadi ini dan pak
Masbukhin, yang bikin saya panas banget sampe mau meledak rasanya saking
gerahnya untuk segera take action.

Bulan-bulan pertama toko beroperasi, adaaa saja pembenahan disana-sini, belum
lagi pake acara bolos kantor segala karena karyawan tidak bisa masuk. Apalagi
ditambah dengan rasa kuatir tidak ada pemasukan, usaha toko tidak laku, calon
pembeli tidak ada yang datang, dan ujung-nya TAKUT Usaha ini MeRUGI.

Tapi kalau melihat Pak Hadi kok bisa yah, dari toko mungil Radisa di jalan yang
katanya orang yang jualan disana tidak bakalan 'manjang, tapi malahan bisa
berkembang dengan membuka toko-toko lainnya di Wonosobo. Ah udah mulai naik lagi
nih semangat untuk berjuang sampai akhirnya, semangat..semangat lagi. Saya juga
kepingin punya toko yang berkembang biak, punya bisnis yang menguntungkan, bisa
ngasih gaji dan memberikan pendapatan ke orang lain.

Saya terus-terusan ketergantungan dengan email-email dari milis TDA, apalagi
yang sifatnya menguatkan semangat juang untuk jadi enterpreneur langsung saja di
print dan dibacakan ke suami dalam perjalanan pulang dari kantor menuju rumah.

Saat itu yang ada hanya Just Do It dan terus optimis mengharapkan hasil akhir
yang paling baik menurut Tuhan. Tentunya sambil merenung apakah bisnis jualan
kerudung ini memang layak untuk dikerjakan. Dan hal-hal yang saya lakukan sampa
sekarang ya hanya Just Do It, Optimis, konsisten, gak mau nge-grundel alias
mengeluhkan karena saya tidak mau menarik hal yang negatif seperti yang ada di
pikiran. Buat saya saat ini kalau omset 0 rupiah memang sedih, bukan cuma mikir
karena nombokin biaya operasional hari itu krn tidak ada pemasukan, saya juga
sedih krn motivasi karyawan di toko saya juga ikutan terbawa 'tidak' enak'.

Karena omset 0 makanya lahir terobosan-terobosan baru yang pingin diujicobakan
di toko supaya ada penjualan. Gara-gara omset 0 jadinya saya mikir & usaha lebih
smart lagi, cari akal spy sukses jualannya, mencurahkan seluruh energi spy ada
penjualan sehingga ada laba utk kita sambil Sabar Menanti terwujudnya break even
seperti yang diharap-harapkan.

Hanya just do it, keep-on-doing-it & tidak mudah menyerah yang membuat saya
sangat menikmati perjalanan usaha Shaakira hingga ke hari ini, besok dan tahun-2
berikutnya.

Oya, istrinya juga diajak ikutan nongkrongi milis & silaturahmi dong pak Asep
:-)

Salam,

Doris Nasution
YM: dorisnst | HP:0815-86038678
Blog: http://dorisnasution.blogspot.com/
Website : http://butikshaakira.com/

mz omar menulis:
Assalamu alaikum Pak Asep yg baik....kalo menurut saya Pak Asep omsetnya dah
nambah kok.
Omset toko: Rp 0
Omset mind set dan kekuatan mental naik 1000% (ini yg paling penting)
Di bisnis itu selalu ada hal2 ajaib yg nggak ketemu di buku2, seminar2, atau
di film2x...di dunia nyata you are the writter, you are the motivator and
you are the actor...
Dan ini baru permulaan pak, nanti akan datang masanya ketika harus
menanggung omset minus (-), wah yang ini butuh jantung yang kuat, fikiran
super tenang, keberanian....
saran saya: keep focus, make a plan, action, doa dan ikhlas....

Sukses pak asep

MZ Omar
http://m-zulpakaromar.blogspot.com


Febby Rudiana menulis:
Pak Asep,
Benar sekali Pak, memang yang sulit adalah menata hati (sikap mental). Jangankan
saat memulai usaha, ketika usaha sudah berjalan lama pun kemungkinan untuk omzet
harian 0 masih ada Pak :)

Selama 5 tahun membuka toko di mall, saya juga pernah mengalami keadaan
benar-benar rugi (total profit minus) selama setahun pertama. Kalau sudah begini
tiada yang lain kecuali sabar, tetap bersyukur, dan terus berusaha mencari jalan
keluar yang terbaik.

Dalam hal ini saya sependapat dengan Kim Kiyosaki. "Bagiku,
proses tidak pernah berakhir. Aku belajar setiap hari. Aku tidak suka
melakukan kesalahan karena rasanya menyedihkan, tetapi aku tahu aku
harus melakukan kesalahan untuk belajar dan kadang-kadang untuk
mendapatkan apa yang kuinginkan"

Masih menurut Kim, kalau kita baru memulai
usaha/investasi & langsung berhasil, apalagi dengan nilai modal yang tidak
kecil, ada dua hal yang mungkin terjadi.
1. Kita akan merasa diri pintar, padahal mungkin saja faktanya adalah kita
sedang beruntung.
2. Kita pasti akan melakukannya lagi dan kemungkinan akan gagal karena kita
tidak tahu apa yang menyebabkan kesuksesan usaha pertama kita.
Jadi, kita tidak bisa mengulang kesuksesan kita yang pertama.

Jadi,
dengan menjalani proses dan belajar di setiap perjalanan sesuai dengan
tingkat resiko kita, maka kita bisa menciptakan kesuksesan-kesuksesan
yang berulang.

Oh ya, ada satu cerita favorit saya yang sering saya baca kalau saya sedang
turun semangat. Siapa tahu juga berguna untuk istri Bapak. Cerita ini pernah
saya posting di blog saya tahun 2007. Ini cerita tentang masa kecil H.M. Ambaldy
Djuardi (Pak Juju), pengusaha kursus jahit dengan puluhan cabang, saat membantu
ayahnya berjualan sate keliling.

==================================================================
Seorang pedagang sate kambing keliling bersama anaknya, seperti biasa
sedang menjajakan dagangannya. Sang Ayah memikul dagangan, sedangkan
anaknya membawa ember cucian piring. Suatu ketika si anak merasa
khawatir dagangan tidak akan laku karena cuaca sangat buruk. Hujan
deras sekali. Sudah jam sepuluh malam, dagangan masih sangat banyak.
Bahkan, si anak memperhatikan daging kambing yang mulai berubah warna,
menjadi agak kebiru-biruan. Itu pertanda proses menuju basi.

Si
anak serasa mau menangis, tetapi ia heran melihat Ayahnya yang selalu
kelihatan gembira. Lalu, ia beranikan diri untuk bertanya, "Bapak kan
mencari uang untuk membiayai makan anak-anak, sekolah anak-anak, beli
baju anak-anak, tapi bagaimana Bapak, kalau dagangan tidak laku begini?
Untuk membayar tukang daging kambing saja tidak cukup. Bagaimana, Pak?

Apa
kata sang Ayah? "O, jangan khawatir, Nak. Kalau dagang sate sekarang
nggak laku, masak besok nggak laku. Kamu kan tahu kemarin dagangan kita
laris, habis satu kambing, berapa keuntungan Bapak? Itu kan gede. Masak
tidak kita syukuri? Masak sekarang hari ini dagangan nggak laku terus
kita menangis jejeritan? Tidak boleh begitu. Kalau ini nanti dagangan
tidak habis, ya kita makan sendiri saja di rumah. Masih ada manfaatnya.
Tenang saja, Nak, hari ini lagi giliran orang lain banyak uang. Besok
atau lusa giliran kita. Tenang saja. Memang begitulah orang dagang,
orang hidup, seperti roda yang berputar. Ada uang tidak ada uang, batin
kita harus bebas, harus tenang. Yang penting kita harus selalu
berusaha."

Si anak tercenung & baru menyadari hikmahnya.
Kalau usaha lagi sepi, tenang saja. Kita berusaha bagaimana
meramaikannya. Dan hikmah yang paling utama adalah, bahwa kita harus
sabar. Kesabaran pasti ada buahnya, yaitu keberhasilan.
=================================================================

Salam,

Febby Rudiana
www.Bunda-Alif.blogspot.com


Ruli saeful menulis:
Assalamu alaikum...
Ini terjadi juga sama saya pak Asep... saya yang baru setahun buka toko...
kadang-kadang 2 sampai 3 hari 0 omsett.... hehehehehe...
tunggu pas lebaran nanti deh Pak Asep...
Omset.. anda angka sampai pada 2-3 digit.., dari pengalaman saya yang baru
2kali lebaran ini buka toko, 80% omset toko dalam setahun adalah pas saat
lebaran...

btw
tetapi.... Setuju sama Pak MZ Omar...
yang penting adalah omset mind set dan mental.... kalo sudah naek 1000% di jamin
turunnya dikit.....
heheheh
Saya ikut mendo'akan semoga sukses.. dikedepannya Pak Asep

ruli
08161475631
Saya juga mohon do'a ke semua anggota TDA
" Sekarang lagi berusaha bikin CV atau PT untuk jasa telekomunikasi.."


AR Junaedi menulis:
Dear Kang Asep,
Kalu boleh ikutan sharing juga ya kang. Saya juga pernah mengalami omset 0
seperti kang Asep, beberapa kali malah. Memang rasanya ga enak ya, tapi
harus kita telan juga. Yang kemudian saya lakukan, pertama instrospeksi.
Mungkin kemarin2 ketika omset lumayan, saya kurang bersyukur. Ketika omset
100, masih mengeluh omset kecil, tidak sesuai target, dsb. Bisa saja ketika
omset 1000 malah sholat tidak tepak waktu karena sibuk melayani pelanggan.
Nah, mungkin ini cara Tuhan menegur. Agar lebih banyak bersyukur, lebih
menghargai berapapun nilai rezeki yang Allah berikan, tidak melalaikan
kewajiban kita, dsb.

Kemudian, ikhlas. Ikhlas bukan berarti diam pasrah. Ikhlas berarti
berikhtiar, usaha semaksimal mungkin baru hasilnya serahkan pada Dia Yang
Maha Memberi Rezki.
Jadi, saya coba2 rubah layout dari pajangan, tukar2 posisi product, saya
beri hadiah (berupa bross senilai 500 rp saja) untuk setiap pembelian.
Hasilnya, alhamdulillah semua omset 0 tergantikan dengan omset yang
berlipat. Bahkan dibulan itu (nov lalu) hampir spt omset lebaran...

Jadi tetap semangat kang!

Wassalam,
AR Junaedi
http://junaedi2010.blogspot.com


Eko June menulis:
Tuh kan pak Asep, temennya banyak hehe, maksudnya hampir semuanya pernah
mengalami.

Saya cuma punya 3 hal yang selalu saya ingat.

1. Dari pak Perry sang raja FO. Usaha itu yg diitung bukan 'kita mau untung
berapa' tapi 'kita siap rugi berapa' atau dalam hal ini kita siap omset nol
sampai kapan, karena itu yang harus kita siapkan secara mental. Masalah
untung, jika kita selalu berusaha maka itu sudah menjadi urusan Allah SWT,
urusan kita di 'siap rugi-nya'. Mangkanya karena 'siap rugi'-nya saya lebih
kecil dari pak Faif contohnya, maka hasil untungnya beda, pak Faif jauuuh
lebih untung pada akhirnya, ini contoh ya tapi bener hehe.

2. Dari bapak tercinta. Waktu muda dulu, klo ada tukang kapuk buat
bantal-kasur ia bilang 'tuh liat, jaman sekarang siapa butuh kapuk buat
ngisi kasur ? jarang. mending beli langsung atau cari bahan lain. tapi dia
tetap jualan bukan hanya karena gak ada barang dagangan lain tapi ia yakin
entah kapan pasti ada yang butuh karena ia ikhlas dan yakin Allah SWT akan
selalu mengalirkan rejekinya'. Maksudnya, apalagi kita yang daganganya lagi
ngetrend hehe.

3. Dari pak Haji Alay dan sumber lain. Rumus 1:0=tak terhingga. Jika dalam
upaya kita selalu diiring doa, secara vertikal menengadah kepada Allah SWT
yang diwakili angka satu dan selalu ikhlas terhadap setiap prosesnya,
bersujud mencium tanah yang diwakili angka nol, maka hasilnya akan menjadi
tak terhingga, beyond our imagination.

Tetap semangat ya.

Wassalam.

-Eko June-


Judho menulis:
Sharing yang luar biasa Pak Asep,
memang dunia wirausaha tidak serta merta indah seperti yang sering
ditawarkan dan diceritakan oleh banyak buku.
tapi di situlah seninya, seni kehidupan,seni ikhlas dan seni tawakal
tinggal bagaimana kita bisa menyikapi setiap keberhasilan dan
kegagalan, kebahagiaan dan kekecewaan yang terjadi selama proses
berwirausaha itu berlangsung.bisakah kita mengambil hikmah dan
balajar daripadanya.

Hal terberat yang biasanya dialami memang dalam meyakinkan pasangan
kita akan apa yang sedang kita kerjakan. saya juga pernah
mengalaminya bersama istri saya tercinta.bagaimana menyikapi segala
yang terjadi pada diri kami dengan ikhlas, tawakal dan pantang
berputus asa. justru itu yang terberat.Alhamdulillah, masa-masa
seperti itu sedikit demi sediki mulai terselesaikan dan mulai
tercerahkan, setelah istri bisa mengikuti seni ikhlas dan tawakal.

Hal lain yang patut terus dikembangkan sesuai nama milis ini Tangan
Di Atas, yaitu teruslah memberi tidak perlu selalu dengan harta, tapi
bisa juga dengan tenaga,pikiran dan tulisan.
Insya Allah pasti ada jalan, Allah tidak akan pernah tidur.

salam sukses
Judo
http://chicakcomunication.multiply.com
indahnya berbagi-bahagianya memberi

Agung M menulis:
Dear pak Asep,
Menurut saya omset 0 rupiah "so what gitu loh", nggak ada yang aneh dengan
hal itu, tapi jangan lama-lama ya, kalau baru satu setengah bulan (apalagi
paska lebaran) sih wajar-wajar saja.

Kalau kita lihat lagi rumusnya brad sugar untuk menghitung profit urutannya
sbb:
1. Lead (jumlah prospek atau visitor)
2. Conversion Rate (berapa persen yang menjadi customer)
3. Jumlah transaksi per customer
4. Rata-rata nilai penjualan setiap kali transaksi.
-->Baru deh disini ketemu omset.
5. Profit margin rata-rata setiap kali transaksi (untuk menghitung
keuntungan)

Jadi ada 4 variabel yang harus dilihat, paling atas adalah lead / jumlah
prospek / jumlah visitor toko pak Asep.
Nah untuk meningkatkan lead banyak yang bisa diperbuat, selain promosi bisa
juga dengan memperbanyak distribution channel (saluran penjualan).

Contoh-contoh distribution channel yang saya tahu diantaranya:
- menitipkan dagangan ke toko lain
- merekrut tenaga penjualan part-time (bisa kenalan/tetangga yang kerja di
perkantoran misalnya)
- buat website (nah ini yang paling strategies, dengan modal yang relatif
kecil bisa mendapatkan ratusan visitor perhari)

Nah itu baru poin pertama, jumlah lead, belum bicara soal conversion dll.
So, tetep semangat ya pak..

Salam,
Agung
www.rumahtiara.com


M Subhan menulis:
kalo menurut saya, dinikmatin aja pak omset 0 rupiahnya, saya ketika memulai
usaha, hampir 6 bulan tidak ada pemasukan sama sekali, bahkan lebih cenderung
minus, bahkan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari aja susah (tapi alhamdulillah
saya berkesempatan untuk menjadi dosen tamu dibeberapa institusi pendidikan D3
Keperawatan- jadi masih bisa makan :), yakin sama Allah bahwa Dia pasti akan
memberi jalan kepada kita.
keep spirit ya pak asep.

subhan
www.indonesianicon.com
081213508213

Benny Saryanto menulis:
Peace Man.....!!!
Iklhas memang sangat mujarab untuk memperkuat bathin dan usaha kita utntuk tetap
semangat...
Ikhlas harus berlaku untuk semua Kita, Istri Kita, Front Liner....
Yakinlah Kang Asep....Siapa yang Ikhlas akan mencapai Kemulyaan....Bahasa
Jawanya Mulyoleghowo alias Mulegh...(om momod ini bukan iklan
loooh)...Ikhlas====>Mulyo akan saya pakai terus sampe dg hari ini besok dan
seterusnya....

Rgds,
Benny Mulyoleghowo
http://mulegh.blogspot.com

Yedi Setiadi menulis:
cerita yang indah..semoga kita semua diberi kesabaran dan keikhlasan yang serupa..
Tetap semangat dan tawakal pak.. Saya yakin semua itu nanti ada balasannya..

Yedi
email : sps_marvel@...
usahadesign.wordpress.com

Ita menulis:
ikutan sharing ya....
jadi ingat bulan Mei 2006 yang lalu, disaat saya harus menentukan pilihan terberat...Saat itu anak sulung saya akan masuk ke SD yang sebenarnya biaya nya sudah kita tabung selama 3 tahun..saat bersamaan saya di hadapkan pada kesempatan untuk menjadi Agen produk kaos muslimah buatan bandung.Saat itu tabungan hanya cukup untuk masuk sekolah...tapi akhirnya saya mengambil keputusan memilih menjadi AGEN...(dan dengan mencicil uang sekolah anak saya)
Akhir nya jadi lah uang 15 juta di sulap menjadi baju kaos sebanyak 300 potong. Jual nya di mana...? karena gak punya toko maka ruang makan kita ubah menjadi TOCIL ( toko kecil ). baju nya di pajang di gantungan yang di tempel pake paku ke dinding, rak nya di ambil dari rak buku yang buku nya di kardus kan dulu...
Minggu pertama....tidak ada 1 pun baju yang terjual...padahal saya sudah membawa ke sekolahan anak saya..., ke pengajian... ., ke rumah teman dan tetangga.... Mulai gelisah...malam nya di pakai memandangi baju yang tidak berkurang selama 1 minggu...15 juta belum bergerak sama sekali...
Hari ini menjelang 3 tahun ber...usaha. ..alhamdulillah. ..stock bulan ini sudah mencapai 8000 piece dan saya memperoleh TOP AGEN selama 5 bulan berturut2... walaupun hanya untuk penjualan di kota kecil DEPOK..
jadi omset 0 rupiah sepertinya memang wajib di rasa kan oleh semua yang baru memulai usaha....
TETAP SEMANGAT adalah kunci nya....
semoga bermanfaat.. ..

ita
http://www.myukhti.com
http://www.ukhtikaosmuslimah.blogspot.com

Tanggapan di facebook

Dharma Wanto menulis:
tenang saja a didepan angka 0 masih banyak angka angka lainnya yang akan menyusul

Dwi Pratomo Yulianto menulis:
Semoga ke depan diberi kemudahan.

Winarni Rejeki menulis:
Bener banget mas Dharma, didepan angka 0 itu masih banyak angka2 lainnya yang akan segera menyusul. Amin. Tetap semangat ya Kang Asep.

Badroni Yuzirman menulis:
Terima kasih Pak Asep. Ceritanya apa adanya dan menginpirasi teman2 di Milis.
Keep on sharing ya pak...

Baca selengkapnya......

Mendengarkan Kembali Emha Ainun Nadjib

Siang itu saya sangat emosional. Hati bergetar-getar. Kalimat-kalimat pujian untuk Kanjeng Nabi Muhammad yang biasa diperdengarkan di pesantren-pesantren puritan terdengar dari musik yang saya pasang di laptop, memenuhi ruang di seantero kamar kost saya. Lantunan puji-pujian, Ilir-Ilir-nya Sunan Ampel, Tombo Ati-nya Sunan Bonang/Sunan Kalijaga, dan puisi “Menyorong Rembulan” Emha Ainun Nadjib diiringi gamelan Kyai Kanjeng seolah menggoncang-goncang kesadaran, menyayat-nyayat hati. Entah mengapa, saya merasa begitu dekat dengan Gusti Allah.

Saya mendapatkan kembali musik Kyai Kanjeng itu dari Mada, sahabat dekat saya waktu kuliah S1 di UGM. Ia adalah satu dari dua kawan seangkatan saya yang kini mengajar di almamater kami. Mada sedang menyelesaikan S3 di Heidelberg University, Jerman. Ia kembali ke Indonesia untuk melakukan riset mengenai konfigurasi politik partai-partai Islam di Tasikmalaya. Sudah beberapa kali kami bertemu dan bernostalgia, bahkan kami sempat bertemu tak sengaja dalam satu bis ketika saya akan pulang ke Ciamis dan dia menuju Tasikmalaya.

Dulu Mada dan saya adalah fans berat Emha. Saya terhipnotis oleh tulisan-tulisan Emha dalam rubrik Opini Plesetan di Tabloid Detik pada 1993—1994 dan kumpulan tulisan dalam Markesot Bertutur, dan Dari Pojok Sejarah. Saya akan selalu kejar forum apapun dimana Emha hadir di dalamnya, baik seminar maupun pengajian. Sihir Emha telah mendorong Mada dan saya untuk bersepeda dari Jalan Kaliurang untuk mengunjungi rumahnya di bilangan Patangpuluhan. Namun kami harus gigit jari karena ketika itu Cak Nun tak berada di tempat.

Kami berdua juga pernah menghadiri pengajian Emha di daerah Sapen yang betul-betul menggetarkan. Cak Nun mampu melihat gejala dengan cara yang tidak dilihat oleh pengamat lain. Pandangan-pandangannya tajam dan subtil. Saya ingat betul bagaimana forum pengajian itu penuh dengan gelak tawa karena Emha selalu menyelingi nasehat-nasehatnya dengan canda-canda yang cerdas. Namun suasana yang riuh rendah itu tiba-tiba hening ketika Emha membacakan puisi secara spontan. Semua orang menundukkan kepala dan meresapi kata-kata ajaib yang keluar begitu saja dari mulut Cak Nun. Kata-kata itu seperti ia petik dari udara dan menyegarkan hati kami di forum itu. Ketika pengajian bubar, para santri dan jamaah pengajian berebut mencium tangan Emha. Mada dan saya ikut dalam barisan itu. Tapi saya tak mau menciumnya. Saya hanya menyalami tangannya, memandang matanya. Subhanallah, saya bergetar. Ada aura yang begitu kuat terpancar dari wajahnya.

Popularitas Cak Nun tak bisa dibendung. Apalagi setelah ia mendirikan Kyai Kanjeng. Saya pun tak pernah melewatkan pertunjukan Kyai Kanjeng. Sampai kini saya kadang-kadang hadir kalau ada acara pengajian Padhang Mbulan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, meski sekarang ia sudah kehilangan pengaruhnya. Ia tak seperti dulu lagi. Tak ada lagi aura itu. Kini, saya pun, memandang Cak Nun biasa-biasa saja. Meski karya-karyanya yang dulu tetap menggetarkan hati. Seperti siang itu.

--------
Lir-ilir, lir-ilir tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro

Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jrumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo

Terjemahan dalam bahasa Indonesia adalah kira-kira sebagai berikut:Ayo bangun (dari tidur), tanam-tanaman sudah mulai bersemi,
demikian menghijau bagaikan pengantin baru

Wahai gembala, ambillah buah blimbing itu,
walaupun licin tetap panjatlah untuk mencuci pakaian

Pakaian-pakaian yang telah koyak sisihkanlah
Jahit dan benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung sedang terang bulan, mumpung sedang banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…

(Sunan Ampel)

Ilir-ilir
Kita memang sudah ngelilir
Kita sudah bangun, sudah bangkit, bahkan kaki kita sudah berlari ke sana kemari
Namun akal pikiran kita belum
Hati Nurani kita Belum

Kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut
namun ajaran-ajarannya kita biarkan hidup subur di dalam aliran darah dan jiwa kita
Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik
Kita mencerca maling dengan penuh kedengkian kenapa bukan kita yg maling
Kita menolak pemusnahan dengan merancang penusnahan-penusnahan

Kita menghujat para penindas dengan riang gembira sebagaimana iblis
yakni kita halangi usahanya untuk memperbaiki diri
Siapakah selain setan, iblis, dan dajjal
yang menolak khusnul khotimah manusia
yang memblokade pintu surga
yang menyorong mereka mendekat ke pintu neraka

Sesudah ditindas kita menyiapkan diri untuk menindas
Sesudah dihancurkan kita susun barisan untuk menghancurkan

Yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan tapi menggelegaknya kecurigaan
Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan melainkan prasangka dan fitnah

Kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta
Melainkan mempersempit dunia kita sendiri
dengan lubang-lubang kebencian dan iri hati

Pilihanku dan pilihanmu adalah … apakah kita akan berfungsi menjadi rembulan, kita sorong diri kita bergeser ke alam yang lebih tepat agar kita bisa dapatkan sinar matahari, dan kita pantulkan nilai nilai Tuhan itu kembali ke bumi.

(Menyorong Rembulan, Emha Ainun Nadjib)


Tombo Ati
Tombo ati iku limo perkarane
Kaping pisan moco Qur’an lan maknane
Kaping pindo sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat kudu weteng ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe

Salah sawijine sopo bisa ngelakoni
Mugi-mugi gusti Allah nyembadani
(Sunan Bonang/Sunan Kalijaga)

Baca selengkapnya......

Rumus 5F dari Raja Herbal

“Ada 5F rumus sukses dalam berbisnis,” kata Pak Harmanto, suami Bu Ning Harmanto, yang sukses dalam bisnis herbal dengan membawa brand Mahkota Dewa. Sudah lama saya mendengar namanya dan pernah melihat beliau dan istrinya pada event penganugerahan ISMBEA, sebuah penghargaan bagi pengusaha UKM yang dianggap berhasil oleh Majalah Wirausaha dan Keuangan di Jakarta. Namun saya masih belum berani ngobrol dengan beliau ketika itu karena mental block masih mengikat kepercayaan diri saya.


Petang itu, Sabtu, 24 Januari 2009, di rumah Pak Bams yang merupakan sesepuh TDA Joglo, saya mengikuti temu offline TDA Joglo yang digawangi Pak Budi Prajitno. Saya yang datang berombongan (bersama dua kawan: Sigit dan Wawan serta adik ipar saya, Wanto), mendapat ilmu gratis dari jagoan-jagoan TDA yang sudah beromset 11 digit. Hadir dalam acara itu Pak Edy, pemilik warungbarokah.com, Pak Hadi Kuntoro sang raja selimut, dan Pak Harmanto sendiri. Kalau meminjam istilah Pak Roni Yuzirman, isi forum itu "daging" semua, hehehe…

Lantas apa 5F yang dimaksud Pak Harmanto? “5F itu adalah Fun, Feeling, Fit, Future, Finance,“ ujar Pak Harmanto seraya memperlihatkan kelima jarinya. Ia menunjuk kelingking untuk Fun. Bisnis harus menyenangkan, tidak boleh stress. Makanya simbolnya kelingking karena ia bisa dipakai untuk hal-hal yang mengasyikkan seperti mengorek kuping.

Kemudian F yang kedua adalah Feeling yang disimbolkan dengan jari manis. Bisnis harus dijalankan dengan rasa, dengan naluri positif. F yang ketiga adalah fit. Kita harus sehat dan kuat dalam menjalankan bisnis. Jika tidak maka bisnis kita tak akan bisa berkibar. F yang keempat adalah Future yang ditandakan dengan jari telunjuk. Bisnis harus berorientasi pada pencapaian masa depan yang gemilang. F yang terakhir adalah Finance dimana sebuah bisnis telah lengkap jika sudah menghasilkan kondisi finansial yang mapan.

“Tapi ingat ya, yang paling penting bisnis itu menyenangkan dulu. Tak ada gunanya unsur finance-nya sudah tercukupi tapi kita tidak bisa menikmatinya karena stress,” Pak Harmanto mengingatkan. Ia juga tak lupa memberikan nasehat yang amat sering saya dapatkan di komunitas ini. Apa itu? “Memberilah, maka bisnismu akan maju.” Pepatah ini pula yang diingatkan kembali oleh Bapak yang pernah bekerja di Astra hingga 23 tahun itu. Begitu ya Pak Harmanto?

Tentang konsep memberi ini, Pak Hadi juga mengatakan bahwa sudah bukan eranya lagi kita saling tertutup dan bersaing dengan pebisnis yang berjalan di jalur yang sama. Kita harus saling memberikan jalan agar sukses sama-sama. “Kalau ada partner bisnis yang tanya kepada saya dimana saya mendapatkan selimut, saya bahkan ajak langsung ke pabriknya. Apakah dengan begitu dia akan memotong bisnis saya? Kenyataannya tidak,” tegas Pak Hadi.

Di forum ini saya juga mendapat ilmu yang tak kalah hebatnya dari Pak Edy, miliarder muda usia yang fokus pada bisnis IT dan telekomunikasi di bawah bendera warungbarokah.com. Ia memberikan rumus bahwa bisnis itu harus menyenangkan, mudah, menghasilkan uang cepat, tapi tidak capek. Caranya gimana? “Perbanyak agen atau subagen. Bikin partner bisnis kita itu kaya. Berikan dia keuntungan lebih banyak. Toh, kalau dia kaya, kita akan lebih kaya juga,” terang Pak Edy.

Ia juga menegaskan kembali soal pentingnya berjejaring atau berkomunitas dalam berbisnis. Pak Edy menyatakan bahwa paling penting dalam bisnis adalah kita punya komunitas yang saling menyokong. Jaringan inilah yang membesarkan bisnis saya. “Setelah era internet, sekarang trendnya adalah Based Community Bussiness (bisnis berbasis komunitas),” Pak Hadi Kuntoro menguatkan.

Well, saya senang bisa hadir di forum ini terutama karena dulu saya agak pesimis dengan TDA Joglo yang dilanda kevakuman. Berkat Pak Budi Prajitno yang berani pasang badan dan juga dukungan Pak Bams, TDA Joglo nampaknya akan bergeliat, tak mau kalah dengan TDA di kota-kota lainnya. Saya menyaksikan gairah itu di awal sesi yang memperlihatkan komitmen dari para pengurus TDA Joglo untuk membenahi kelembagaan dan melakukan percepatan pertumbuhan bisnis para anggotanya.

Baca selengkapnya......

Omset 0 rupiah

12 Januari 2009 menjadi tanggal penting dalam perjalanan bisnis saya. Bukan karena hari itu kami mendapat angka penjualan yang fantastis. Justru sebaliknya. Hari itu tak ada transaksi jual-beli di outlet kami. Ya, hari itu omset outlet kami 0 rupiah. Kabar itu sampai kepada kami setelah karyawan kami, Sri, memberitahu melalui SMS, sesuatu yang mengagetkan saya dan istri.


“Ini betul-betul ujian bagi kita untuk sabar, syukur, dan ikhlas,” ujar saya menenangkan istri, meski hati kecil saya sendiri juga perlu ditenangkan, hehehe…. Saya betul-betul tidak siap dan sampai beberapa hari mood saya jatuh hampir ke titik nol.

Sejak buka 15 Desember lalu, omset harian outlet kami meleset dari perkiraan, masih jauh dari target minimal yang saya tetapkan. Sesuai rumus bisnis dari Pak Ryad Kusuma, saya targetkan bisa balik modal dalam waktu satu tahun. Saya berusaha menerapkan berbagai teori untuk menarik pengunjung dari para motivator dan penasehat bisnis saya, mulai dari gencar berpromo, penataan outlet yang menarik, hingga senantiasa berperasaan positif.

Saya optimis dengan target itu setelah melihat traffic (lalu lintas) orang dan kendaraan di jalanan depan outlet kami terbilang sangat tinggi. Rupanya saya masih harus menyimpan target itu. Nyatanya, traffic tak selalu berbanding lurus dengan penjualan. Saya masih harus berpikir keras, menerapkan strategi dan taktik penjualan dan marketing yang lebih canggih. Di samping itu, yang jauh lebih berat adalah menjaga stamina dan semangat. Penjualan yang rendah seringkali menjatuhkan mental kita.

“Hey! Jangan biarkan semangat dan optimisme menyusut! Ayo bangun, Bung!” bisik hati saya. Semangat dan optimisme adalah dua hal yang melekat dalam cerita-cerita sukses. Penjualan yang minim justru harus memompa semangat saya untuk terus berinovasi dalam promo dan pemasaran. Inilah tantangan. Situasi sulit justru harus memaksa kita untuk terus berpikir dan bekerja keras.

Sabtu, 17 Januari 2009, saya kembali ke Jogja karena ada kuliah dari Prof Olle dari Norwegia pada hari Senin. Dua hari di kamar kos saya merenungkan semuanya, mengendapkan seluruh kegelisahan saya, membekukan keraguan saya.

Ada titik terang. Ternyata kuncinya ikhlas. Ya, ikhlas, sebuah bentuk penyerahan diri kepada Sang Penguasa Alam. Saya harus serahkan hasil dari usaha kita kepada Gusti Allah. “Tugas kita bukan untuk berhasil, tetapi untuk mencoba,” saya masih ingat kata-kata Mario Teguh itu. Kita wajib bekerja, berdoa, dan memelihara pengharapan yang positif agar bisa menarik energi-energi positif di alam semesta yang mendukung seluruh capaian yang ingin kita gapai. Titik akhirnya adalah ikhlas, membiarkan tangan-tangan ghaib yang Maha Kuat bekerja meluluskan keinginan kita.

Saat ini saya tak lagi ragu, tidak pula gelisah ketika mendengar outlet kami belum juga mencapai target minimal yang ditetapkan. Saya serahkan semua hasil kepada Sang Penguasa Alam. Yang penting saya telah dan akan terus bekerja memperbaiki kinerja, berperasaan dan berpengharapan positif, lebih banyak lagi sedekah, perbanyak doa, lebih disiplin dalam ritual dhuha dan tahajud. Setelah itu perkuat keyakinan bahwa keberhasilan hanya soal waktu saja. Saya yakin Tuhan sudah menghitung setiap butir keringat kami dan itu semua pasti akan dibalas bahkan melebihi jumlah keringat itu. Sekali lagi, ini hanya soal waktu saja. “Akan ada akumulasi keringat,” ujar Wanto, adik ipar saya, suatu ketika.

Urusan dengan diri saya selesai. Bagaimana dengan istri? Dia masih diliputi keraguan. Hampir setiap hari saya menelpon atau SMS untuk menguatkan kembali semangatnya, memulihkan kepercayaan dirinya. Apalagi bulan depan saya sudah tidak di sampingnya selama lebih dari empat bulan karena saya harus kuliah di Oslo, Norwegia.

Saya bilang, “Ikhlaskan saja. Mau dapat berapapun hari ini, itu bukan urusan kita. Serahkan semuanya sama Gusti Allah. Yang penting kita jangan sampai berhenti bergerak. Besok kita harus bekerja lebih keras, lebih gencar lagi berpromo, lebih banyak lagi kita memberikan keuntungan untuk pelanggan. Trius, kita juga harus perbanyak lagi sedekah, perkuat lagi doa dan wiridnya, dhuha dan tahajudnya.”

“Ikhlas itu susah, Yah. Hati kecilku masih ragu karena ada kewajiban belanja tiap bulan dari Rabbani. Bisa gak kita penuhi itu, sementara omsetnya segitu-gitu aja?” tanya istri saya di ujung telepon.

“Kamu harus yakin bisa. Keraguan itulah yang menghalangi keberhasilan kita. Apa yang kita capai adalah apa yang kita rasakan dan pikirkan. Buang keraguan itu dengan optimisme. Tanamkan optimisme dengan syukur atas rahmat dan berkah yang sudah kita terima,” ujar saya.

Saya mengatakan bahwa tak ada satupun alasan yang membenarkan kita pesimis dan ragu. Karena kalau kita begitu, itu artinya kita tidak mensyukuri apa yang sudah kita terima, tak menikmati apa yang sudah kita capai. “Lihatlah apa yang sudah kita capai sekarang. Dari segi apapun kita tetap jauh lebih beruntung daripada orang-orang di sekitar kita. Kita harus bersyukur. Syukur dan ikhlas memancarkan dan menarik energi positif ke dan dari alam semesta. Energi positif di dalam diri kita itulah yang akan melakukan percepatan pemenuhan atas apapun yang kita inginkan,” tegas saya.

Begitulah, saya berulangkali menegakkan kembali keyakinan istri saya. Tak ada cara lain. Bisnis itu kami jalankan berdua. Karena itu, kami harus satu frekuensi. “Kalau hanya aku yang yang yakin dan optimis sementara kamu tidak, proyek kita akan sulit, akan pincang. Kita harus jalan sama-sama, yakin dan optimis sama-sama. Kita harus berprasangka positif kepada Gusti Allah. Betapapun buruknya situasi yang menimpa kita, itulah cara Gusti Allah memuliakan kita,” kata saya sembari tetap merapatkan Nokia 1110i di telinga.

Saya sebetulnya tak sabar ingin pulang ke Ciamis. Saya ingin berada di samping istri saya untuk menguatkan hatinya. Tapi tugas akhir kuliah menumpuk. Saya harus bikin tiga paper panjang karena perkuliahan semester pertama sudah selesai. Tugas-tugas itu harus saya selesaikan sebelum saya berangkat ke Oslo, Norwegia, 22 Februari mendatang.

Baca selengkapnya......

Mau Nyumbang Ketemu Kawan-kawan Lama

Selama dua minggu dari tanggal 1—16 Januari 2009, Radela Moslem Outlet menggelar promo Tukar Kerudung. Promo ini memberikan diskon 15 persen semua produk Rabbani jika pelanggan menukarkan kerudung lama yang masih layak pakai. Kerudung-kerudung bekas itu kami niatkan untuk disumbangkan ke panti atau yayasan yang berurusan dengan lansia (lanjut usia).


Respon atas promo ini sangat baik. Meski di awal-awal kami harus menjelaskan maksud promo itu. Banyak yang salah paham. Mereka menyangka kerudung lama bisa ditukarkan begitu saja dengan kerudung Rabbani tanpa mengeluarkan uang. Padahal maksudnya persis seperti tukar tambah. Jadi kerudung lama yang ditukarkan dihargai sama dengan 15 persen harga kerudung Rabbani. Satu kerudung lama hanya bisa ditukartambahkan dengan satu kerudung Rabbani.

Sampai batas akhir promo terkumpul satu keresek besar kerudung. Saya lupa menghitungnya. Yang pasti jumlahnya saya perkirakan lebih dari 50 kerudung bekas. Selanjutnya, kerudung-kerudung itu saya bawa ke Jogja. Saya pernah tahu bahwa panti lansia atau panti jompo letaknya persis berdampingan dengan Asrama Darmaputera UGM di Baciro, tempat tinggal saya waktu kuliah S1 (1997—2000).

Namun sesampainya di sana, tempat itu sudah pindah. Menurut tukang sapu yang saya temui, panti jompo itu sudah pindah ke lingkungan Rumah Sakit Sardjito. Sebelum saya ke tempat tersebut, saya penasaran dengan kondisi asrama dimana saya pernah mencicipi kehidupan yang melenakan di asrama itu. Menurut keterangan tukang sapu itu, panti jompo sudah berganti menjadi Wisma Mahasiswa yang menetapkan tarif sangat-sangat tinggi: 1,25 juta perbulan! Maklum fasilitas yang disediakan sangat mewah untuk ukuran mahasiswa UGM yang dulu ndeso seperti saya: ber-AC dan air hangat.

Sementara itu, asrama yang dulu saya tempati tarifnya juga naik meski tetap murah untuk ukuran kost-kost-an umum: 700 ribuan persemester atau 125 ribu-an perbulan. Satu kamar bisa diisi oleh 1—3 orang karena luas perkamarnya memang besar sekali, sekitar 8 x 6 meter. Dulu saya hanya bayar 15 ribu perbulan atau 90 ribu persemester.

Pembicaraan beralih ke topik lain. Saya menanyakan kemungkinan kawan-kawan lama saya masih bercokol di situ. Dia bilang sekarang semua penghuni betul-betul baru. Mahasiswa-mahasiswa yang terlalu lama di sana dipaksa pindah ke tempat lain. Saya tanyakan sahabat baik saya, Sigit alias boyor (boyor adalah nama asrama. Dulu setiap orang punya nama asrama), yang dulu waktu saya lulus belum juga lulus dan saya perkirakan akan menjadi mahasiswa paling lama ada di sana.

Benar saja. Penjaga asrama yang datang kemudian mengetahui keberadaan Sigit. Syukurlah ternyata dia sudah lulus. “Dia sekarang di Lempuyangan,” ujar Pak Yanto, penjaga asrama itu. “Bapak punya nomor HP-nya?” tanya saya. Wah, ternyata dia punya, dan langsung menelepon Sigit. Sigit balik telepon dan kami pun bertukar nomor HP dan janjian bertemu siang harinya. Senang sekali rasanya mendangar suara di seberang telepon.

Sigit adalah kawan baik saya di asrama itu. Dia orang yang paling “nyambung” kalau diskusi ataupun ngobrol apapun. Dulu dia buka warung kecil di depan kamarnya, menyediakan apapun yang dibutuhkan kawan-kawan: mulai dari rokok hingga sabun. Saya pelanggan setia toko-tokoan itu, biasanya saya beli rokok ketengan favorit saya: Gudang Garam Filter.

“Gerobak tokonya masih ada dan diteruskan oleh penghuni-penghuni baru,” ujar Sigit yang siang itu datang ke kost saya di belakang Polsek Bulaksumur, Karangmalang. Ia datang dengan kawan lain yang juga dulu sama-sama menghuni asrama. Wawan namanya. Nama yang tiba-tiba hilang di ingatan saya ketika berjumpa siang itu. Saya beberapa kali minta maaf karena melupakan namanya. “Maklum sudah tua. Sudah berbuntut dua,” kata saya. Sebetulnya saya malu sekali sampai melupakan nama kawan yang dulu sering main truf bareng. Sewaktu tinggal di asrama, saya dan kawan-kawan memang paling gemar main truf berjam-jam, bahkan bisa dari pagi sampai pagi lagi di lantai dua asrama itu.

Wawan sudah jadi dokter sekarang. Ia baru mau dua tahun menikah dan tiga bulan ini dikaruniai puteri yang lucu. Mereka berdua, Sigit dan Wawan, kini tinggal di daerah Kota Gede. Wawan praktek di sebuah klinik di Kota Gede dan berencana buka praktek di rumahnya.

Sedangkan Sigit sudah menikah sekitar dua tahun lalu dan dikarunia bayi berusia 7 bulan. Sudah dua tahun ini ia menekuni usaha jual-beli barang-barang bekas, mulai dari furniture sampai komputer. Wawan pun menegaskan keinginannya untuk berbisnis di samping profesi dokter yang ditekuninya. Ketika mendengar ini, saya kemudian bercerita tentang dua toko saya: Toko Anakita dan Radela Moslem Outlet.

Demikianlah, kami menghabiskan menit demi menit, jam demi jam, dengan cerita-cerita nostalgia masa lalu. Di tengah kepungan asap rokok yang kami hisap bertiga di kamar kost itu, kami saling bercerita, termasuk tentang keberadaan penghuni-penghuni asrama yang lain.

Pembicaraan siang itu kemudian beralih ke bisnis. Saya kemudian mengenalkan keberadaan komunitas bisnis tempat saya bergabung: Komunitas Tangan Di Atas (TDA). Saya katakan kepada mereka berdua bahwa TDA adalah komunitas yang luar biasa, tempat segala ilmu bisnis dipertukarkan secara gratis karena semangat komunitas ini adalah saling memberi. Komunitas ini percaya pada kekuatan memberi sebagai nafas dari bisnisnya. Saya beritahukan pula kepada mereka berdua bahwa TDA Jogja Solo (Joglo) akan mengadakan pertemuan offline (kopi darat) di rumah Pak Bams di daerah Pringwulung, Sabtu, 24 Januari 2009.

Saya informasikan pula kepada mereka bahwa dalam pertemuan ini akan datang pebisnis-pebisnis yang sudah beromset 11 digit, yaitu Pak Edy (warungbarokah.com), Pak Hadi Kuntoro (rajaselimut.com), dan Pak Harmanto (raja herbal Mahkota Dewa). Sigit dan Wawan antusias mendengar undangan ini. Pada hari yang ditentukan, kami pun hadir di acara TDA Joglo itu.

Well, ceritanya tak sistematis ya? Kerudung-kerudung bekas itu nasibnya bagaimana? Sudah disumbangkan?

Sesampainya di RS Sardjito, saya malah ditunjukkan ke tempat lain lagi. Setelah mengikuti petunjuk seorang tukang becak saya tiba di sebuah yayasan yang mengurusi lansia di daerah Sendowo. Ketika saya menyerahkan kerudung-kerudung itu, seorang pengurus yayasan milik GKR Hemas itu dengan senang hati menerimanya dan menyatakan akan menyalurkan kerudung-kerudung itu ke panti-panti lansia.

Saya berharap kerudung-kerudung itu cepat sampai dan dipakai para lansia di panti jompo. Saya pasti gembira jika bisa melihat langsung mereka senang memakai kerudung-kerudung itu.

Baca selengkapnya......

Hunting Produk ke Tasik

Sudah empat kali kami kulakan ke Tasik untuk dua toko kami (Toko Anakita dan Radela Moslem Outlet). Tadinya saya kulakan di Tanah Abang ketika saya masih ngantor di Jakarta. Kini, sejak saya kuliah di Jogja, saya tak bisa lagi belanja di Tanah Abang karena tak efisien. Kami harus mencari supplier-supplier yang dekat dengan tempat tinggal kami. Pilihan paling logis adalah Tasik karena di daerah ini terdapat pusat-pusat produksi, khususnya kerudung dan mukena.


Kawalu adalah sasaran pertama saya. Daerah ini terkenal sebagai pusat bordir, khususnya mukena. Untuk sampai ke tempat ini saya mengendarai motor bersama istri mengendarai dari Lakbok, Ciamis. Jaraknya lumayan jauh. Dari lakbok ke Banjar (18 km), kemudian ke Ciamis (Banjar-Ciamis 23 km), lalu ke Tasik (Ciamis-Tasik 17 km), dan akhirnya ke Kawalu (Pasar Cikurubuk-Kawalu 10 km). Jadi total jarak yang kami tempuh kurang lebih 78 km dalam waktu kurang lebih 2,5 jam.

Namun pencarian kami di akhir Desember itu kurang memuaskan karena Kawalu tidak sesuai harapan kami. Kami tak menjumpai tempat yang kami bayangkan sebagai pusat produksi. Yang kami jumpai hanya beberapa rumah produksi yang tak begitu massal dalam produksinya. Barangkali kami belum menemukan tempatnya saja.

Suatu ketika di awal Januari 2009 kami kembali ke Tasik, kali ini sasaran kami adalah Pasar Induk Cikurubuk. Di tempat inilah kami menemukan produk-produk berkualitas yang harganya lumayan miring. Untuk produk-produk baju bayi dan anak-anak, kami menemukan merk-merk yang biasa kami jumpai di Pasar Tanah Abang. Harganya memang sedikit mahal tapi kalau dihitung-hitung ongkos ke Tanah Abang sama saja. Malah lebih efisien.

Untuk harga produk busana muslim pun tak kalah menggiurkan. Produk-produk yang dijual bervariasi dan tak kalah kualitasnya dari Tanah Abang. Saya menduga produk-produk itu memang diambil dari Tanah Abang. Dugaan itu muncul karena setiap Senin dan Kamis para pedagang Tasik berjualan busana muslim (kerudung dan mukena) di blok F2 lantai 5 Tanah Abang dan di emperan menuju blok F. Jadi saya menduga ketika mereka pulang, mereka membawa produk-produk lain dari Tanah Abang ke Pasar Cikurubuk. Itu dugaan saya lho, bisa meleset.

Saya dan istri kemudian memutuskan bahwa ke depan kami akan kulakan di Pasar Cikurubuk, baik untuk Toko Anakita maupun untuk Radela Moslem Outlet. Hal ini sudah dimulai awal Januari lalu. Kami mendapatkan kerudung-kerudung dengan harga yang lumayan murah namun tetap berkualitas. Saya berharap hasil kulakan ini akan melengkapi koleksi kerudung di Radela Moslem Outlet.

Baca selengkapnya......

Mudahnya Mendapat Karyawan

“Senin (15 Desember 2008) kita buka ya!,” ujar saya. Di ujung telepon, istri saya menyanggupi. Tanpa itung-itungan berbau mistis Jawa/Sunda, saya putuskan bahwa 15 Desember kami akan membuka Outlet Busana Muslim dengan nama: RADELA Moslem Outlet. Nama RADELA sendiri saya ambil dari inisial tim kami: Ra= Rais (anak kedua kami, berusia 4,5 tahun), DE= Deidra (anak sulung kami, berusia 5,5 tahun), L=Lilis, istri saya (30 tahun), dan A= inisial saya sendiri (tebak sendiri usia saya, hehehe…). Sedangkan "Moslem Outlet" terinspirasi dari nama belakang usaha Mbak Poppy dan Pak Ryad Kusuma.

“Ok, tapi siapa yang jaga toko nanti?” tanya saya. Sedari awal saya memang menghendaki agar ada karyawan yang mengurusi operasional harian outlet kami. Pertama, karena sebuah usaha dagang baru bisa dikatakan sebuah bisnis jika ia bisa berjalan tanpa kehadiran kita. Kita harus menciptakan sistem dan merekrut orang-orang yang kita anggap kapabel untuk menjalankan sistem itu. Tugas kita sebagai owner hanyalah mengontrol secara periodik, misalnya seminggu sekali atau sebulan sekali. Kita akan terbebas dari kegiatan operasional-teknis. Dengan begitu, kita punya waktu lebih panjang untuk fokus pada hal-hal yang lebih strategis, misalnya pengembangan usaha, diferensiasi usaha, dan sebagainya.

Kedua, ada keuntungan tak langsung ketika kita merekrut karyawan: membantu masyarakat mengurangi angka tidak produktif (baca: pengangguran). Meski baru 1-2 orang, tapi kita berkontribusi bagi pengurangan pengangguran di daerah kita sendiri. Ini memang sudah lama menjadi perhatian saya. Kini saya ingin melakukan perbaikan di level mikro setelah bertahun-tahun bekerja di level makro yang tak jelas kontribusinya untuk masyarakat. Saya ingin bangun usaha sebanyak-banyaknya. Semakin banyak usaha, semakin banyak pengangguran bisa kita serap ke dalam usaha kita. Saya percaya betul bahwa kalau kita membantu masyarakat, maka masyarakat akan membantu kita.

Sampai hari Sabtu kami masih bingung bagaimana dan siapa karyawan yang akan direkrut. Mau ambil saudara dekat, saya kuatir gaji yang akan diberikan nanti dianggap terlalu kecil. ” Mosok sama saudara sendiri menggaji segitu,” kata-kata itu menghantui saya. Mau rekrut orang luar yang tak dikenal, saya masih was-was. Lagi pula tak mudah mencari pengangguran di kampung kami karena kebanyakan dari mereka memilih menjadi TKI di luar negeri yang dianggap lebih memberikan imbalan materi lebih banyak.

Demikianlah, saya pun berdoa. Dan yakin bahwa itu bukanlah masalah besar.

Hari Minggu, ketika beres-beres toko, istri saya menanyakan kepada pemilik toko barangkali dia punya saudara atau kenalan orang di Langen yang bisa direkrut jadi karyawan. “Lha, anak saya aja, mbak. Dia baru lulus dari UIN Jogja. Mau saya suruh istirahat dulu di rumah,” ujarnya.

Plong…

Istri saya langsung menelpon saya yang masih di Jogja. “Yah, aku udah dapat karyawannya, anak bapak yang punya toko. Aku udah ketemu, udah ngobrol-ngobrol. Dia udah pengalaman jaga toko dan orangnya baik, kayaknya bisa dipercaya. Nanti ayah aja yang ngomong lebih detil, termasuk soal gaji,” kata istri saya di ujung telepon.

Saya tidak tahu bagaimana proses ini begitu mudah. Tangan-tangan tak terlihat telah bekerja. Bayangkan, saya dapat karyawan, sarjana, berpengalaman menjaga dan mengelola toko atau usaha. Ketika kembali dari Jogja, minggu siang itu saya langsung dipertemukan istri saya dengan calon karyawan kami. Saya langsung menanamkan perasaan positif bahwa ia bisa dipercaya. Saya bilang kepada dia bahwa saya baru belajar buka usaha, jadi prinsipnya kita sama-sama belajar. Saya memang tak bisa memberikan gaji selevel sarjana di kota-kota besar, tapi saya akan menjamin dia digaji lebih tinggi dari standar gaji di tempat itu. Bukan karena dia sarjana, tapi karena saya ingin memanusiakan karyawan saya.

Sebagai orang yang bekerja untuk hak-hak asasi manusia, saya tak mungkin mengeksploitasi pekerja dengan memberikan gaji seperti umumnya di daerah itu yang betul-betul minim. Selain gaji pokok, saya berikan juga komponen lain, yaitu uang makan, uang pulsa, dan bonus. Selain soal gaji, saya juga memberikan hak libur satu hari dalam seminggu.

Dalam sejumlah keterbatasan, saya berusaha memberikan pelayanan maksimal yang saya mampu untuk karyawan saya. Saya yakin betul bahwa kalau kita memberikan hal-hal terbaik untuk karyawan kita, maka ia akan melakukan hal yang sama untuk kita. Hal paling penting yang kita butuhkan dari karyawan adalah kejujuran, loyalitas, dan tanggung jawab. Ketiganya bisa kita peroleh kalau kita “memanusiakan” mereka, memenuhi kebutuhan hidupnya, memberikan hak-hak yang memungkinkan dia bisa hidup dengan standar maksimum sebagai manusia.

Baca selengkapnya......

Menjadi Subdealer Resmi Rabbani

Dua minggu sebelum outlet kami di Langen dibuka, saya dan istri masih bingung mau jualan produk apa. Niat kami memang sudah bulat bahwa kami akan membuka outlet busana muslim dengan fokus kerudung. Namun produk apa yang paling pas untuk pasar di sana, kepala ini masih gelap.


Beberapa bulan sebelumnya kami sudah mencoba satu merk yang ada di sebuah majalah muslimah untuk dites di Toko Anakita. Harganya memang relatif murah, memberikan syarat yang ringan, dan keuntungan yang besar, namun banyak calon pembeli yang komplain karena bahannya dianggap panas dan tidak nyaman. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari produk lain.

Kami pun mencari produk-produk lain yang ada di majalah itu, namun belum ada juga yang sreg. Setelah saya browsing di internet saya menemukan kerudung merk Rabbani yang memiliki sistem keagenan yang ringan. Ia juga sudah punya brand yang kuat. Hal ini saya komunikasikan dengan istri dan kami sepakat untuk mengambil Rabbani sebagai produk unggulan yang akan dijual di Radela Moslem Outlet.

Suatu siang di awal Desember 2008, berangkatlah kami ke Reshare Rabbani di Banjar. Namun kami harus gigit jari karena mereka menolak membuka subdealer baru. “Ada perubahan sistem di pusat, subdealer kemungkinan akan dihapus pada 2009. Kami tak mau mengecewakan Bapak dan Ibu,” ujar supervisor di sana. Akhirnya kami pulang dengan kebingungan yang luar biasa. Produk apa yang akan kami jual?

Keesokan harinya, sambil menunggui Toko Anakita bersama istri, saya kembali menelepon beberapa supplier yang ada di majalah muslimah itu. Tetap tak ada yang sreg di hati. Akhirnya saya menelepon Rabbani pusat di Bandung dan menanyakan kemungkinan kami menjadi subdealer.

Titik terang pun datang.

Menurut Rabbani Pusat ada pemahaman keliru dari manajemen reshare Rabbani di Banjar. Yang akan dihapus bukan subdealer tetapi dealer. Dealer-dealer Rabbani akan didorong untuk menjadi reshare atau, kalau tidak mampu, menjadi subdealer. Rabbani Pusat kemudian mengontak reshare Banjar. Sejurus kemudian kami pun ditelepon pihak reshare Banjar bahwa kami boleh menjadi subdealer kerudung yang kerap nongol di layar kaca itu. Kami diundang untuk datang keesokan harinya.

Lega. Akhirnya kami pun jualan Rabbani.

Itu baru kerudung. Saya ingin Radela Moslem Outlet betul-betul memenuhi kebutuhan muslim di daerah Langen dan sekitarnya, mulai dari kerudung, blus, gamis, koko, kaos muslimah, baju muslim anak, mukena, sajadah, peci, dan peralatan ibadah lainnya. Saya pun kembali hunting produk-produk tersebut. Untuk baju muslim anak, saya kontak anggota komunitas TDA, Pak Afrizal, yang mensupplai busana muslim anak dengan brand Poety. Sedangkan untuk busana muslimah saya menjual brand-brand terlaris: Qirani, Sik Clothing, Ukhti, dan Pilgrim. Sementara untuk mukena, saya menjual mukena bordiran khas Tasikmalaya yang diambil dari pusatnya.

Karena modal yang mepet saya pun harus menahan diri untuk menjadi grosir dan masih mengandalkan penjualan eceran. Ke depan, kalau dipercaya Sang Maha Kaya untuk mengelola uang lebih banyak, saya akan lebih fokus menjadi grosir busana muslim di Kota Banjar. Insyaallah…

Baca selengkapnya......